gambar bandar lele sangkuriang

Artikel Pemasaran Lele - Dinamika harga pasar lele, supply demand, wilayah, cuaca, waktu, kultur dan korelasinya bagi kesuksesan beternak lele anda ( Bagian - 2 )


pasar_leleBagian 2 -

Kultur Transaksi Penjualan Lele

Kulo nuwun, Punten, Permios, Tabe’, Nunas lugra, dan banyak tuturan bahasa daerah lainnya yang dapat berarti satu kata dalam bahasa Indonesia, yaitu : permisi. Ketika kita berkunjung ke tempat dimana kita belum mengenal secara dekat, kata tersebut bisa menjadi ajimat.

 

         Permisi, memanglah hanya kata dalam bahasa. Namun jika ditelaah secara mendalam, kata permisi merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah budaya atau kultur, dimana kultur dapat diartikan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama. Lalu, apa kaitannya dengan perdagangan lele??... Mudahnya, sebelum menuju area yang berbeda, anda harus memahami kultur tempat tersebut sebelumnya. Sebelum menjual lele, anda harus memahami kultur penjualannya.

 

           Bagi yang sudah sering panen, mungkin pelan - pelan dapat memahaminya. Namun bagi sahabat – sahabat yang baru terjun dalam dunia usaha lele, kultur penjualan antara petani lele dengan pihak pembeli hasil / pengepul lele dapat menjadi masalah jika belum terbiasa. Ya ibarat kata, anda memasuki sebuah area yang belum pernah anda masuki, kemudian tercengang dengan yang anda lihat didepan mata. Ketika tercengang dan secepat kilat anda mampu beradaptasi, kemungkinan besar anda selamat. Ketika tidak mampu, tentunya anda dapat terjerat.

 

Sistem Timbangan
           Sistem timbangan acap kali menjadi persoalan. Mungkin banyak di buku – buku yang telah anda baca, hasil panen 1 ton dikali harga jual Rp. 10.000,- per kg, maka anda akan mendapatkan pendapatan kotor sebesar Rp. 10 juta. Dikurangi modal sekian, maka untung akan sekian. Namun biasanya, dalam penerapan dilapangan, kenyataan akan berkata lain. 1 ton hanya menjadi acuan kesuksesan anda dalam kuantitas produksi, sedangkan pembayaran real hasil penjualan menjadi acuan nyata keuntungan usaha anda.

 

         Biasanya, dan memang sudah berlaku secara umum, dari setiap perhitungan 50kg yang ditimbang, yang dicatat dan akan dibayarkan oleh pengepul hanya 49kg. Atau bisa juga setiap 50kg ditambahkan lagi 1kg, namun yang dicatat tetaplah 50kg. Sistem tersebut biasa dikenal dengan istilah “Angetan”, “Rapaksi”, “Diskon”, dll. Hitung saja jika anda berproduksi 1 ton, tapi dikurangi 1 kg tiap angkat timbangan, maka omsetnya tentu saja tidak 1 ton bukan ?..

       

       Sebagian dari anda mungkin sudah mulai mengernyitkan dahi dikepala, namun sebelumnya mohon sebentar untuk ditunda. Sistem diatas boleh dibilang wajar. Karena fungsi sistem diatas adalah membebankan kerugian penyusutan saat transportasi dari lokasi penjual menuju kolam pengepul, kepada pihak penjual. Terlepas hal tersebut adil ataupun tidak adil, memang begitulah kebiasaannya.

 

           Disamping itu, terdapat juga wilayah – wilayah  seperti di Baros, Sukaraja, atau mungkin juga beberapa daerah lainnya terutama di pelosok pedesaan, yang mengenal dan menerapkan system timbang yang tidak bersih dalam transaksi penjualan lele konsumsinya. Yaitu, tiap naik timbangan di kurang 1 kg, terlepas dari berapapun jumlah berat lele yang naik dalam 1 kali timbangan. Jika seharusnya lele 1 ton naik timbangan 20 kali dengan berat  normal  50kg untuk setiap naik timbangan, maka dengan system tersebut timbangan dapat dilakukan sebanyak 25 – 30 kali ataupun lebih tergantung kemauan dan kelihaian tangan dari pihak pengepul. Dan jika naik timbangan dari yang umumnya hanya 20 kali diubah menjadi 30 kali oleh pihak pengepul, maka tentu saja 10 kg yang seharusnya mutlak milik petani, juga jatuh menjadi milik pengepul. Total 30 kg lepas dari tangan anda secara cuma – cuma. Hal ini tentu saja, benar – benar harus menjadi persoalan.

 

Lalu, kenapa bisa terjadi ??

      Hal diatas bisa terjadi dikarenakan banyak factor. Bisa saja pengepulnya memang nakal, atau tidak jarang jutru dari peternaknya yang nakal.

Kenapa pengepulnya menjadi nakal, ya mungkin karena dari petaninya banyak yang nakal. Lalu kenapa petaninya bisa nakal, ya karena mungkin dari pengepulnya juga yang terlebih dahulu nakal. Lingkaran setan yang sangat ironis..

 

          Banyak peternak lele yang nakal, memperbanyak pakan dimalam hari menjelang transaksi, bahkan hingga satu dua jam sebelum kedatangan para pengepul. Pakan terus ditambahkan oleh peternak, dengan harapan agar berat lele dapat sedikit bertambah saat ditimbang.

 

         Pihak pengepul juga tentunya tidak mau kalah. Bisa saja mereka akan mendatangi peternakan sejak malam harinya, dengan harapan untuk menjaga kebersihan sistem timbangan dari perbuatan petani yang tidak diinginkan. Atau mungkin juga, pihak pengepul lele akan memperlakukan hasil panen anda dengan kasar ketika dalam jaring tangkap ataupun bak sortir sementara, agar lele kaget / stress sehingga memuntahkan sebagian makanan yang telah dimakannya.

 

Solusi.
         Jauh hari sebelum waktu panen, sebaiknya anda sudah mengontak pihak pembeli / pengepul lele. Jelaskan syarat dan kondisi lele anda. Sepakati terlebih dahulu harga jual beli, spesifikasi lele yang dijual, sistem timbangan yang digunakan, estimasi waktu panen, sistem pembayaran, serta hal lainnya yang anda anggap perlu dibicarakan agar lebih jelas sebelumnya.

 

      Mungkin hal diatas terkesan merepotkan atau terlalu mengada – ada. Namun jika ingin kelanggengan usaha anda, hal diatas penting dilakukan, dikarenakan dapat memberi kesempatan masing - masing pihak untuk menyiapkan diri sebaik - baiknya.

 

          Dari sisi peternak, anda dapat menyiapkan diri untuk mulai mengatur pola pakan yang lebih murah namun tetap baik mutunya, terus menjaga kesehatan lele hingga hari panen, mengontak penyedia bibit lele untuk siklus produksi selanjutnya, hingga yang paling penting, persiapan tersebut dapat memberikan anda waktu lebih untuk mencari penawaran harga dan sistem terbaik dari beberapa calon pembeli / pengepul lele. Jika jadwal panen anda tepat dengan kebutuhan mereka, kemungkinan harga lebih tinggi yang bisa anda dapatkan. Karena resiko mereka dalam menampung lele sementara, tentunya telah berkurang.

 

         Di sisi pengepul lele, tentu saja mereka juga harus menyiapkan diri. Menyiapkan kapan waktu panen yang akan disesuaikan dengan daya tampung kolam atau daya serap penjualan mereka, menyiapkan modal untuk pembelian lele anda, prosedur panen sesuai jenis kolam, jumlah personil yang dibutuhkan, survey barang, dan beberapa hal lainnya.

 

        Disaat hari panen, masing – masing pihak juga diharapkan untuk saling menjaga dan bekerjasama. Karena keakuratan dan kecepatan timbangan juga tidak jarang menjadi masalah. Timbangan yang terlalu cepat jelas dapat mengurangi keakuratan. Pencatatan yang tidak tepat, jelas mengurangi angka keuntungan.

 

         Singkat kata, komunikasi dan kerja sama yang baik antara kedua pihak dapat menjadi pijakan dasar dalam kesuksesan ternak lele bersama. Ketika anda sebagai produsen, tentu diharapkan semaksimal mungkin memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Harus ada yang memulai untuk memotong lingkaran setan diatas demi kesejahteraan  petani lele Indonesia. Semoga itu berawal dari diri kita.

 

Catatan :

" Segala artikel yang kami publikasikan, merupakan sebuah catatan atas pengamatan dan pengalaman. Artikel tersebut tidak dimaksudkan sebagai sebuah pedoman.  Segala penggunaan beserta konsekuensinya merupakan tanggung jawab pengguna. Artikel dapat dipublikasikan kembali, dengan mencantumkan alamat sumber asal sebagai penerapan azas etika  dan penghormatan atas Hak Kekayaan Intelektual. "

 

Artikel Terkait :

 

 

Alhamdulillah, setelah lebih dari 3 bulan vakum dalam produksi dalam rangka proses pemindahan farm kami ke tempat baru di Jakarta Timur, di bulan agustus ini kami telah mulai menginjak ke dalam tahapan uji coba produksi. Meskipun ketersediaan sarana prasarana masih jauh dari sempurna, Insya-Allah satu-dua minggu setelah lebaran, produksi Batch-1 kami telah mulai siap untuk dikeluarkan, meski sementara hanya dijual dalam jumlah terbatas.

Berbekal atas pengalaman dilokasi sebelumnya, ditempat ini kami mencoba memperbaiki...

 

Peternakan Lele Tawakal Jaya

logo_dagang_tawakal_jaya

Peternakan bibit lele sangkuriang

Indukan asli bersertifikat BPBAT Sukabumi.

 

" Harga grosir, Stok melimpah, Kualitas terjamin "

 

Jalan H. Balok Raya, Rt 13/02, Kelurahan Kalisari

Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, 13790

( Empang Haji Nimin / Area Pemancingan Villa Kalisari )

( Peta Lokasi )

Informasi dan Pemesanan :  

0856-900-2332 / 0812-840-800-54 / 021-93212412

( call or sms 09.00-21.00 ) 

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it / This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

 

Update terakhir (Thursday, 19 January 2012 22:43)

 

Komentar anda


FORM_CAPTCHA
Ulangi Captcha

Kunjungi juga

lapak kami di...

kaskus_logo

logo_tokobagus

58523296_1.jpg