logo bandar bibit lele

Artikel Pemasaran Lele - Rantai Distribusi Pemasaran Lele

 

pasar_lelePemasaran lele.Satu kata ajaib yang dapat merubah alur usaha lele anda. Jika tepat, usaha ternak lele anda akan sukses dan terus maju. Jika  salah, usaha anda tentunya akan mundur dan mungkin saja bisa berbalik arah. Memusingkan bagi yang belum menemukan jalannya, mempertebal kantong bagi yang sudah memahaminya. Ada yang bilang, beternak lele itu sulit jualnya. Namun sebagian lagi mengatakan, menjual lele itu semudah membalikkan tangan. Lalu mana yang benar ?.....

Sebelum memutuskan mana yang benar atau salah, kita harus benar – benar membaca kondisi nyata dilapangan. Terdapat sebuah kenyataan bahwa : Memang benar terdapat kenyataan ada sebagian petani lele yang sulit menjual hasil panennya. Namun disisi lain memenuhi kebutuhan 2 hingga 3 kuintal pesanan lele konsumsi setiap hari secara kontinyu bagi seorang tengkulak / pengepul lele juga bukanlah perkara mudah.

 

Jika menyimak kondisi diatas, jelas terlihat ada sebuah missing link yang hilang ( hehehe… English pisan euy!!!)..  Lalu apakah garis yang hilang itu ??.. Eng ing eng…… Tidak lain dan tidak bukan ialah informasi dan pemahaman  tentang rantai  jalur distribusi serta tingkatan harga jual. Jika kita sama – sama bisa memahaminya, InsyaAllah akan lebih mudah bagi kita untuk menjalani roda usaha lele.

 

Mata Rantai Jalur Distribusi Lele
Beternak lele tentu saja bukanlah usaha perseorangan. Mulai dari tangan seorang peternak lele menuju konsumen akhir, tentunya harus melewati banyak tahapan. Apalagi jika anda ingin mencoba masuk menerobos masuk ke dalam pasar – pasar besar di Jakarta. Untuk studi kasus rantai distribusi di salah satu pasar besar di Jakarta timur, anda dapat melihatnya pada gambar di bawah ini :

 

rantai_distribusi_lele

 

Karakteristik tiap tahapan rantai distribusi
A. Petani Lele
Memelihara lele mulai dari bibit hingga lele panen. Dalam banyak kasus, pandai dalam memelihara lele, namun hanya sedikit pengetahuan tentang perkembangan dan dinamika pasar. Sehingga margin yang diperoleh hanya berasal dari kreatifitas pengelolaan pakan dan volume produksi yang dihasilkan. Tersebar diseluruh pelosok mulai dari pedesaan  hingga sudut – sudut perkotaan.

 

B. Tengkulak Ikan
Pembeli lele dalam tingkatan pertama. Banyak terdapat di wilayah, dimana tata niaga distribusi lele belum berjalan dengan baik. Karena biasanya diwilayah dengan tata niaga lele yang sudah mapan ( sentra – sentra budidaya lele), sudah ada bandar – bandar besar ataupun koperasi yang menampung hasil para petani. Tengkulak terkadang hanya berbekal informasi daftar peternak dan peta wilayah, menyebar ke seluruh pelosok memburu petani lele yang sedang berproduksi dengan harga jual yang miring. Tidak jarang mereka datang hanya untuk bernegosiasi harga hingga mencapai kesepakatan, kemudian mengontak Bandar Ikan untuk datang mengambil barang.

 

C. Bandar Ikan
Pembeli lele tingkat kedua. Memiliki modal besar, berpusat di sentra – sentra produksi lele, jaringan armada “ pemburu petani / tengkulak “ yang baik, jaringan pemasaran yang mapan, dan sebagainya. Kebanyakan mereka memiliki kolam sendiri, sebagai dasar untuk berjaga – jaga jika pasokan lele dari petani / tengkulak berkurang. Dikarenakan biasanya mereka memiliki janji dan kewajiban yang tertulis maupun tidak tertulis untuk terus dan harus memasok kepada Bandar Pasar ataupun Bakul. Sesungguhnya mereka ini yang menjadi pengendali kontinuitas pasokan ke atas maupun ke bawah, namun tetap saja mereka tidak bisa mengendalikan harga ditingkat petani maupun konsumen. Tidak seperti komoditas lainnya, ketika stok lele berlimpah dan harga lele sedang turun, mereka tetap tidak akan menimbun pasokan lele dalam kolam penampungannya.

Karena tentu saja, semakin lama menimbun, semakin besar biaya yang harus mereka keluarkan untuk pakan guna menjamin lele tersebut tetap hidup hingga ke tangan selanjutnya.

 

D. Bandar Pasar
Pembeli lele tingkat ketiga. Berfungsi sebagai pengendali pasokan hingga ke tangan konsumen. Terkadang tidak memiliki modal yang besar, dikarenakan mendapatkan “nota” dari Bandar Ikan, dan kemudian memutar barang dagangannya terlebih dahulu, lalu membayar pada pengiriman selanjutnya. Istilah dagangnya “Sistem 2-1”. Dua kali ambil, satu kali bayar. Kekuatan utama mereka ialah jaringan dan hubungan didalam pasar.

 

E. Bakul / Centeng
Kebanyakan merupakan kaki tangan dari Bandar Pasar ataupun langsung Bandar Ikan, yang tersebar didalam lapak-lapak pasar. Sistem perdagangan mereka juga menggunakan “bon / nota 2-1”. Atau dengan kata lain, mereka mengambil barang terlebih dahulu kepada bandar, kemudian membayarnya setelah barang dagang laku terjual kepada konsumen. Tidak banyak yang anda bisa harapkan untuk dapat menerobos langsung ke tahapan ini. Terkecuali jika memang di pasar tersebut belum ada bandarnya ataupun anda dapat menawarkan sesuatu yang lebih daripada bandar yang sudah ada seperti; pasokan yang lebih pasti, harga lebih murah, kemudahan pembayaran yang lebih fleksibel, dan lain sebagainya.


Memang, dalam banyak kasus rantai pemasaran, tahapan diatas tersebut tidaklah mutlak. Bisa saja seorang tengkulak merangkap sebagai bandar ikan ataupun bandar pasar. Ataupun seorang petani memotong jalur distribusi dengan langsung menawarkan kepada bakul / centeng pasar. Namun dalam rantai distribusi yang sudah mapan tata niaganya, hal tersebut merupakan sebuah keharusan. Dan satu – satunya hal yang membuat tahapan itu harus ada, ialah factor jaminan adanya kontinuitas supply / pasokan.

 

Dalam tata niaga distribusi lele yang sudah tertata rapih, masing – masing pihak saling memiliki ketergantungan. Logikanya mudah saja. Mereka harus terus memiliki stok lele, dalam waktu yang tepat dan jumlah yang cukup, untuk memenuhi janji mereka satu dengan lainnya. Mereka tidak mudah berpaling dari supplyer lama, dengan hanya imingan harga murah dan satu atau dua kali pengiriman yang melimpah, jika tidak ada jaminan bahwa besok mereka akan mendapatkan pasokan untuk berdagang.

 

Jika kita lihat diatas, tentunya juga salah satu pertanyaan terbesar bagi petani lele sekaligus dapat terjawab. Kenapa terlalu besar disparitas / selisih harga antara harga jual di petani dengan harga jual di konsumen, sehingga terkadang harga jual beli antara petani dengan tengkulak menjadi tembok penghalang masing – masing pihak untuk mencari titik temu negosiasi harga penjualan. Ya tentunya jika dikaitkan dengan rantai distribusi yang ada, karena banyak kepala dalam rantai distribusi yang menggantungkan hidupnya dari berdagang lele. Dalam perubahan tingkatan harga misalnya. Anggap saja setiap tingkatan mulai dari petani harga bertambah Rp. 1.000,- perkilonya. Dari petani Rp. 11.000,-, Tengkulak Rp. 12.000,-, Bandar Rp. 13.000,-, Bandar Pasar Rp. 14.000,-, dan akhirnya Bakul / Centeng menjual dengan harga Rp. 15.000,- kepada konsumennya. Bahkan jika konsumennya merupakan pedagang sayur rumah tangga di daerahnya, maka tentunya harga jual ke konsumen akhir menjadi Rp. 16.000,-

 

Lalu dimana potensi terbesar terjadinya perubahan fluktuasi harga di tingkat petani maupun konsumen ? Ya tentu saja berada di tengkulak dan tingkatan bakul. Kedua elemen yang paling dekat dengan petani dan konsumen. Faktor – factor yang mempengaruhinya dapat anda baca pada seri artikel : Dinamika harga pasar lele, supply demand, wilayah, cuaca, waktu dan korelasinya bagi kesuksesan beternak lele anda.

 

Ok, lalu dengan kondisi diatas, bagaimana peluang dengan anda sebagai peternak lele konsumsi agar lebih sukses dan mendapatkan keuntungan yang maksimal ??

Tidak usah ragu. Dengan kreatifitas dalam tata pakan dan pengendalian volume yang berkelanjutan ( supply yang kontinyu ) itu sudah cukup untuk menjadi daya tawar yang lebih untuk masuk dalam jaringan tata niaga lele yang sehat. Tidak perlu berfikir untuk produksi dalam ton. Cukup penuhi kebutuhan 100kg / hari untuk satu kelurahan, itu sudah cukup untuk meraih keuntungan yang lebih maksimal. Terlebih lagi jika anda memiliki jaringan sesama peternak dalam daerah yang sama, tentunya daya tawar anda akan lebih maksimal kepada para pengepul / tengkulak bahkan langsung menuju ke konsumen akhir. Disamping itu, fokus  menyasar target dalam area terkecil diwilayah sekitar anda, lalu menjaga pasokan agar dapat terus berlanjut, jauh lebih baik dibandingkan dengan memproduksi skala besar – besaran sambil mengharapkan tengkulak ataupun bandar datang membeli hasil panen anda dengan harga yang tinggi.

 

 

Catatan :

" Segala artikel yang kami publikasikan, merupakan sebuah catatan atas pengamatan dan pengalaman. Artikel tersebut tidak dimaksudkan sebagai sebuah pedoman.  Segala penggunaan beserta konsekuensinya merupakan tanggung jawab pengguna. Artikel dapat dipublikasikan kembali, dengan mencantumkan alamat sumber asal sebagai penerapan azas etika  dan penghormatan atas Hak Kekayaan Intelektual. "

 

Artikel Terkait :

 

Alhamdulillah, setelah lebih dari 3 bulan vakum dalam produksi dalam rangka proses pemindahan farm kami ke tempat baru di Jakarta Timur, di bulan agustus ini kami telah mulai menginjak ke dalam tahapan uji coba produksi. Meskipun ketersediaan sarana prasarana masih jauh dari sempurna, Insya-Allah satu-dua minggu setelah lebaran, produksi Batch-1 kami telah mulai siap untuk dikeluarkan, meski sementara hanya dijual dalam jumlah terbatas.

Berbekal atas pengalaman dilokasi sebelumnya, ditempat ini kami mencoba memperbaiki...

 

Peternakan Lele Tawakal Jaya

logo_dagang_tawakal_jaya

Peternakan bibit lele sangkuriang

Indukan asli bersertifikat BPBAT Sukabumi.

 

" Harga grosir, Stok melimpah, Kualitas terjamin "

 

Jalan H. Balok Raya, Rt 13/02, Kelurahan Kalisari

  Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, 13790

( Sebelah Pemancingan H. Amat ) 

( Peta Lokasi )

Informasi dan Pemesanan :  

0856-900-2332 / 021-93212412

( call or sms 09.00-21.00 ) 

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it / This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

 

Update terakhir (Thursday, 19 January 2012 22:43)

 

Komentar anda


FORM_CAPTCHA
Ulangi Captcha

Kunjungi juga

lapak kami di...

kaskus_logo

logo_tokobagus

58523296_1.jpg